Makanan Gorengan, Berisiko Meningkatkan Demensia

Mengkonsumsi gorengan memang enak rasanya. Tapi hati-hati, makanan kaya protein yang dibakar dengan suhu tinggi bisa meningkatkan risiko demensia. Tidak cuma yang digoreng, makanan yang dibakar juga bisa meningkatkan risiko ini.

Ilmuwan di Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap makanan-makanan yang dibakar dan digoreng, seperti daging bakar, ayam bakar, maupun ayam goreng. Hasilnya didapat bahwa senyawa yang terkandung pada makanan-makanan yang dibakar dan digoreng dapat menambah risiko demensia.

Demensia merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. Demensia biasanya terjadi pada orang-orang yang menderita stroke dan alzheimer.

Peneliti menyatakan bahwa makanan yang kaya akan protein lalu dibakar atau digoreng pada suhu tinggi akan meningkatkan tingkat advanced glycation end-products (AGEs) berbahaya di dalam darah. Advanced Glycation End-products (AGEs) merupakan substansi yang dapat menjadi faktor bagi perkembangan berbagai penyakit degeneratif.

“Karena AGEs dapat menjadi kompleks di dalam tubuh manusia, pengakuan bahwa faktor risiko yang tidak terlalu diperhitungkan ini memainkan sebuah peran di dalam demensia, dapat membuka jalan bagi terapi yang unik,” kata pemimpin peneliti, Professor Helen Vlassara, seperti dilansir laman Mirror, Sabtu (8/3).

Para ilmuwan mengundang 93 orang, di mana 60 diantaranya menunjukkan bahwa mereka memiliki jumlah AGEs yang tinggi di dalam darah mereka dan telah mengalami penurunan mental yang progresif.

“Ini merupakan suatu permasalahan bagi manusia. Pilihan untuk diet mungkin dapat membantu mencegah terjadinya penyakit serius pada diri mereka. Tapi, penemuan ini masih harus dilihat sebagai upaya untuk ujicoba selanjutnya, bukan sebagai pemberian jawaban yang pasti,” kata Prof. Derek Hill dari Universitas College London.

Dengan hasil penemuan ini, para ilmuwan menganggap ini merupakan salah satu penemuan senyawa yang paling komprehensif.

 

Sumber

Sebuah Hotel 30 Lantai Hanya Dalam Tempo 360 jam

China, Para pekerja konstruksi China kembali membuat dunia terperangah. Kali ini mereka membangun sebuah hotel 30 lantai hanya dalam tempo 360 jam di Provinsi Hunan.

Bangunan ini merupakan prestasi terbaru Broad Sustainable Building, sebuah perusahaan konstruksi China yang populer akan tingkat efisiensinya.

Pembangunan hotel itu dimulai pada 2 Desember 2011 di Lin Gang Industrial Zone, Xiangyin, dekat Ibu Kota Changsha. Pembangunan rampung 15 hari kemudian.

Hotel bintang lima yang diberi nama T30 itu menjulang di atas lahan seluas 17.000 meter persegi dan akan dibuka pada Rabu, 18 Jan.

Hotel ini memiliki 316 kamar standar, 32 suite, delapan ambassador suite, dan dua presidential suite.

Selain itu, hotel ini juga dilengkapi beragam fasilitas seperti restoran, bar, gym, heli pad, dan kolam renang di lantai puncak. Sementara di bawah tanah terdapat lahan parkir berkapasitas 73 mobil. Pembangunannya menelan dana US$17 juta atau sekitar Rp150 miliar.

BSB merupakan anak perusahaan Broad Group, korporasi teknologi China yang pernah membangun Broad Pavilion—sebuah paviliun enam lantai—untuk ajang 2010 Shanghai Expo dalam waktu 24 jam, serta sebuah gedung 15 lantai dalam waktu 6 hari pada Juni 2010.

Kunci kesuksesan BSB dalam hal kecepatan terletak pada berbagai inovasi teknik konstruksi yang mereka kembangkan. Rahasianya, 90% dari menara hotel telah dirangkai dengan komponen-komponen siap bangun, ujar Senior Vice President Broad Group Juliet Jiang.

Menurut Juliet, perusahaannya bahkan mampu mendirikan bangunan serupa dalam waktu yang lebih singkat lagi, 200 jam, jika pekerjanya telah lebih terlatih nanti.

Jiang juga mengatakan bahwa alasan di balik pembagunan hotel supercepat itu adalah untuk “menghindari hujan”.

Kendati menuai keraguan dari segi keamanan, Jiang mengaku tidak cemas dengan kualitas hotelnya itu.

“Itu karena mereka tidak mengerti (teknologi yang kami gunakan—red),” ujarnya. “Biarlah waktu yang membuktikan.”

Berdasarkan siaran pers dari China Academy of Building Research, T30 dibangun dengan sebuah sistem baru buatan BSB. Sebuah simulasi menunjukkan gedung ini juga cukup kokoh: tahan goyangan gempa berkekuatan 7-9 SR.

BSB mengatakan teknologi konstruksi itu mereka kembangkan pada 2009. Sebuah teknologi yang mereka juluki “sustainable building”, setelah sebuah gempa berkekuatan 8 SR mengayak-ayak Wenchuan dan menewaskan hampir 70.000 orang pada 2008.

Selain kebal gempa, teknologi T30 juga meliputi sembilan aspek lain, mulai dari hemat energi hingga aliran udara yang lepas dan lega.

Zhang Yue, CEO BSB, mengatakan pada The Economic Times bahwa “kecepatan yang dipakai untuk mendirikan bangunan-bangunan mereka telah menurunkan tingkat kesia-siaan penggunaan energi dan berbagai material lainnya.”

“China 20-40 kali lebih terpolusi dibanding Eropa. Ini berbahaya bagi kesehatan kta dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi kita, “ imbuh Zhang.

Zhang, seorang miliarder asal China, merupakan penerima penghargaan “Champions of the Earth” dari UN Environment Programme di 2011. Dia menegaskan bahwa bangunan “sustainable” akan menjadi bisnis terbesarnya pada 2013.

Sumber

Benarkah, Menguap itu Bukan Karena Kita Mengantuk?

Wina – Kebanyakan orang mengira menguap adalah tanda jika kita mengantuk, bosan, atau lelah. Namun, apa sebab sebenarnya orang menguap? Sebuah penelitian menemukan bahwa menguap disebabkan ketika suhu di dalam otak meningkat atau terlalu panas.

Sekelompok peneliti dari University of Vienna, Austria, menguji sejumlah subjek yang diminta untuk belajar dan dilacak segala aktivitas mereka. Peneliti kemudian menemukan bahwa satu-satunya faktor yang paling signifikan dalam penyebab menguap adalah meningkatnya suhu otak.
Faktor-faktor lain seperti jenis kelamin, musim, umur, kelembaban, waktu yang dihabiskan di luar, dan jam tidur malam tidak terlalu berpengaruh dalam penyebab menguap.

“Pada akhirnya tampak bahwa menguap sangat terkait dengan suhu otak dan salah satu bagiannya menjadi pemicunya. Suhu panas membuat otak memerlukan asupan udara lebih banyak. Jika hal itu terjadi, maka Anda akan mudah menguap,” kata peneliti, seperti dilaporkan Times, Rabu, 7 Mei 2014.

Asumsi ini sebelumnya juga dibuktikan dengan penelitian tikus. Pada mamalia, termasuk tikus dan manusia, ditemukan hal yang sama. Suhu otak akan meningkat dulu sebelum menguap. Namun, suhunya akan kembali turun begitu selesai menguap

 

Sumber

Ujian Sekolah di tengah Hutan untuk Hindari Mencotek

Beijing - Tindakan mencontek selama ujian kerap dilakukan oleh para pelajar di Cina. Untuk menghindarinya, sebuah sekolah menengah atas di Provinsi Hubei melakukan ujian di tempat yang tak biasa: di tengah hutan.

Selama musim ujian April ini, Chengfeng School di kota Jingzhou di provinsi itu memboyong para siswanya ke hutan. Meja siswa dibuat sangat berjauhan, sehingga sulit bagi mereka untuk menyalin jawaban dari temannya. Selain itu, gerakan mencurigakan siswa juga gampang diamati.

Seorang guru, Xie, menjelaskan bahwa ini adalah pertama kalinya sekolah melakukannya. Ia hanya berharap cuaca kondusif, semisal tak turun hujan, sehingga semua berjalan lancar.

Mencontek adalah rahasia umum di kalangan siswa di Cina. Dalam satu kasus, seorang siswi kedapatan menuliskan contekan di sekujur kaki hingga pangkal paha.

Plagiarisme tak hanya di kalangan siswa sekolah menengah, tapi hingga ke jenjang perguruan tinggi. Forbes pernah menulis, upaya plagiarisme yang paling umum dijumpai di kalangan mahasiswa adalah menyalin literatur berbahasa Inggris secara mentah-mentah ke dalam bahasa Cina, kemudian mengakui sebagai karya mereka. Bahkan kerap dijumpai, literatur yang mereka contek adalah materi yang sudah sangat umum, semisal dari Wikipedia.

 

 

Sumber: Yahoo

Cairan Kental Kecap Berpotensi Mengobati Penyakit HIV

Kecap termasuk dalam penambah rasa yang sudah akrab dengan dunia kuliner kita. Siapa sangka jika cairan kental berwarna hitam ini ternyata juga berpotensi untuk mengobati HIV.

Yamasa Corp, perusahaan Jepang yang sudah memproduksi kecap sejak tahun 1645 pada tahun 1988 mendirikan divisi penelitian pangan.

Salah satu risetnya adalah mengetahui bagaimana sistem imun tubuh merespon berbagai zat kimia dalam makanan. Kemudian pada tahun 2001 mereka mengumumkan sebuah penemuan besar, yakni EFdA, molekul dalam kecap yang bisa membuat rasa kecap lebih baik, berpotensi besar digunakan dalam pengobatan HIV.

EFdA (4′-etunil-2-fluoro-2′-deoxyadenosine), mirip dengan 8 jenis obat HIV yang sekarang ada di pasaran, yang bisa mencegah replikasi HIV.

Bahkan, EFdA mungkin bekerja lebih baik dibandingkan dengan tenofovir, antivirus yang bisa mengurangi jumlah HIV dalam darah. Orang dengan HIV yang mengonsumsi tenofovir seringkali mengalami kebal terhadap obat ini sehingga mereka perlu menggantinya dengan obat yang lebih kuat. Ini merupakan kekurangan tenofovir.

Baik tenofovir dan EFdA masuk dalam kelompok obat yang disebut NRTIs (nucleoside reverse transcriptase inhibitor). Obat jenis ini akan mencegah virus HIV memperbanyak diri.

Salah satu keunggulan EFdA yang sudah diteliti adalah tidak gampang dipecah oleh hati dan ginjal seperti halnya tenofovir. Zat ini juga gampang diaktifkan oleh sel, sehingga lebih manjur.

“Dua alasan ini menjadikan EFdA lebih berkhasiat dibanding obat lain. Tugas kami saat ini adalah mengetahui fitur struktural sehingga bisa segera dibuat menjadi obat,” kata Stefan Sarafianos, ahli virus dari Universitas Missouri, AS.

Kini ia bekerja sama dengan perusahaan farmasi Merck untuk menguji apakah obat ini bisa digunakan pada manusia.

pengetahuan dan informasi terkini

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 331 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: