kawakami

Kawakami Desa Kaya di Jepang Tapi Kurang Perempuan Muda


Desa ini penghasilannya rata-rata per orang 25 juta yen. Tidak ada konbini (convenient store), persimpangan jalan hanya satu, penduduk hanya 4.759 orang dan usia 15-64 tahun sebanyak 64,3 persen, jadi banyak sekali yang anak muda usia 20 atau 30-an, pertumbuhan penduduk 1,83 persen (rata-rata di Jepang 1,34 persen). Lebih menarik lagi, kesulitan cari istri (kekurangan calon istri) dan istri yang ada semua muda-muda saat ini.Itulah desa Kawakami di Minamisaku-gun, perfektur Nagano yang 3 jam berkereta dari Tokyo dengan biaya satu kali perjalanan 6.290 yen menuju desa tersebut. Saat ini menjadi sorotan banyak warga Jepang karena penghasilan penduduknya sangat tinggi di atas rata-rata penghasilan penduduk desa di Jepang yang sekitar sepuluh jutaan yen. Demikian ungkap TBS TV, Selasa  (19/11/2013)Penghasilan utama dari pertanian, terutama selada (lettuce) yang terkenal sangat enak di antara Selada lain yang ada di Jepang. Bahkan beberapa negara sudah mulai pesan dari sana seperti Hongkong dan Taiwan.Bukan hanya enak sekali, harganya ternyata relatif murah. Paling mahal lettuce dari Fukuoka. Dibandingkan lettuce dari Tokyo, Nagoya, Osaka, selada dari desa ini masih lebih murah.

Penghasilan kedua dari TV kabel yang memang diperuntukkan bagi desa itu saja. Isinya umumnya mengenai informasi pertanian sehingga mendukung sekali kerja pertanian di sana. Misalnya harga-harga selada di berbagai tempat di Jepang per hari menjadi berapa yen dan sebagainya. Sehingga para petani tersebut dapat bersaing dengan baik, dengan kualitas terbaiknya.

Di antara kelebihan tersebut ternyata ada pula kekurangannya yaitu kekurangan wanita muda untuk jadi istri. Sebanyak 70 persen dari istri yang menikah dan tinggal di sana ternyata berasal dari dari kota besar.

Itulah sebabnya dibuat pertemuan perjodohan bernama Satokon, yang dilakukan Oktober lalu. Diikuti 21 lelaki dan 22 perempuan. Bulan depan Desember 2013 juga akan dilakukan acara perjodohan serupa.

Tantangan desa ini juga karena menyandarkan kepada pertanian, selada, maka pada musim dingin tak bisa berproduksi. Saat musim panas itulah digencarkan penghasilan tanah pertaniannya sehingga banyak hasil diperoleh, banyak terjual dengan kualitas terbaik, sehingga saat jatuh musim dingin dan salju tiba, banyak dari penduduk bersantai, sampai musim berganti dan dapat bekerja lagi dengan giat di persawahan dan perkebunannya.

Fasilitas yang ada, perpustakaan buka 24 jam, rumah sakit buka 24 jam, perawatan atau kunjungan dokter ke rumah bagi yang lanjut usia, para istri muda bersedia membantu  dititipkan anak saat orangtua bekerja. Lebih menarik lagi, karakter manusia desa ini sangat terbuka, menerima baik orang asing yang masuk ke desa itu.

Mungkin bisa dipikirkan bagi kita di Indonesia, yang katanya negeri pertanian, bisakah kita meningkatkan hasil produk pertanian? Cukup satu jenis produk pertanian, tetapi yang sangat tinggi kualitas, enak, relatif murah, terjual baik, mungkin bisa berpenghasilan demikian pula per tahun dan bahagia sejahtera para petani Indonesia nantinya.

Alamnya cantik, bisa mendaki guning, main golf, barbeque di alam terbuka, berkemah, mancing dan sebagainya. Meskipun demikian mereka tak menyandarkan penghasilan dari pariwisata. Hampir 100 persen dari hasil pertanian terutama selada tersebut.

 

Sumber: tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s