Pasangan

"Berjuang Sembuh dari HIV", Putri Lahirkan Anak Bebas Virus


Menjalani kehidupan yang tidak “neko-neko”, Putri Cherry (33) begitu terkejut saat harus dinyatakan terinfeksi HIV. Namun dengan kegigihannya, Putri berhasil “sembuh” dari virus tersebut dan kini tengah mengandung anak ketiganya.Perempuan cantik berkerudung ini menuturkan, awalnya dia pergi ke dokter dengan alasan sakit tenggorokan yang tidak kunjung sembuh. Dalam kunjungan tersebut, ternyata dokter menyarankannya untuk melakukan tes HIV.”Saat itu saya kaget, tapi saya jalani saja, ternyata hasilnya positif. Meskipun CD4 saya saat itu masih terbilang tinggi yaitu sekitar 500,” ujar Putri saat ditemui di pelatihan media seputar HIV dan AIDS di Tempat Kerja oleh Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA) di Jakarta.

CD4 merupakan istilah untuk sel darah putih limfosit dalam tubuh. CD4 menandakan ukuran daya tahan tubuh seseorang yang menjadi sasaran HIV. Pada umumnya, kadar CD4 berkisar di atas 600.

Putri mengaku, karena CD4-nya masih terbilang tinggi, saat terdiagnosa positif, dirinya belum menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) untuk menekan jumlah virus dalam tubuhnya. Diketahui, umumnya odha wajib menjalani pengobatan ARV jika CD4-nya sudah di bawah 350.

Belakangan Putri tahu dia terinfeksi dari suaminya saat itu. Namun dia mengaku tetap berpikir positif, meski fakta dirinya adalah odha awalnya menjadi guncangan yang besar bagi perempuan berdomisili di Jakarta ini. Putri sempat menutup diri dari dunia luar.

Ditambah lagi tak lama setelahnya, sang suami harus lebih dulu meninggalkannya. “Setelah suami saya meninggal, saya jadi merasa sendiri. Berjuang sendirian rasanya tambah berat,” ujarnya.

Beruntung, dia memiliki seorang ibu yang berhasil meyakinkannya untuk kembali menjalani hidup. Putri menceritakan, betapa sang ibu percaya kemampuan anaknya yang cantik dan muda. Putri pun kembali yakin, dia bisa melanjutkan perjuangan.

Stigma dan diskriminasi

Setelah memutuskan untuk kembali berjuang untuk sembuh dari HIV, Putri bukannya tidak menghadapi tantangan. Kembalinya Putri untuk bekerja sebagai resepsionis di sebuah hotel di Bandung pun tidak semulus yang dia duga sebelumnya.

“Begitu tahu saya adalah odha, teman-teman kerja pelan-pelan menjauh. Bos pun meminta saya untuk tidak lagi bekerja di hotel itu. Saya sudah mencoba menjelaskan, HIV tidak menular dari berbicara, berjabat tangan, atau bertukar alat makan dan kamar kecil, namun itu tetap tidak mengubah putusannya,” tuturnya.

Putri pun sempat berpindah-pindah tempat kerja dari hotel ke hotel. Namun serupa seperti sebelumnya, dia selalu diberhentikan setelah diketahui odha. Putri kembali hampir putus asa.

Sampai akhirnya, dia bertemu dengan seorang pria yang bekerja di sebuah kantor otomotif di Bandung. Beberapa kali berbincang, Putri akhirnya berani mengungkap status dia sebagai odha terhadap pria itu.

Namun bukannya seperti teman-teman sebelumnya, pria itu justru malah semakin dekat dengan Putri, bahkan berniat mempersuntingnya sebagai istri. Sontak, Putri terkejut sekaligus senang, mengingat selain berstatus odha, dia juga seorang janda, namun masih ada pria baik hati yang mau meminang dan memiliki anak bersamanya.

Pria itu pula yang mendorong Putri untuk menjalani pengobatan ARV. Setelah menikah, Putri dan suaminya pun secara berkala selalu melakukan tes HIV teratur. Hingga akhirnya Putri dinyatakan “sembuh dari HIV” karena virus di dalam tubuhnya sudah tidak terdeteksi.

Penularan vertikal berhasil dicegah

Karena Putri sudah dinyatakan “sembuh”, pasangan itu pun memutuskan untuk mulai menjalani program kehamilan. Namun tentu saja, program itu tetap memiliki risiko penularan vertikal dari ibu ke anaknya.

Meski begitu, hal itu tidak meruntuhkan niat memiliki momongan yang sudah bulat. Sesuai saran dokter, Putri akhirnya menjalani program preventing mother-to-child transmission (PMTCT). Program tersebut terdiri dari melanjutkan pemberian ARV selama hamil dan menyusui, tes jumlah virus (virus load atau VL) dan CD4 dalam jangka waktu tertentu, persalinan Caesar, dan menghindari menyusui untuk mencegah penularan vertikal.

Putri mengaku, walau sudah dibantu oleh pemerintah, pembiayaan yang perlu dikeluarkan tetap tidak sedikit. Untuk tes VL saja, memerlukan biaya minimal Rp 850 ribu, tes CD4 Rp 110 ribu. Belum lagi biaya karena komplikasi darah lainnya, seperti keracunan kehamilan, serta persalinan Caesar.

Begitu pula dengan pola makan yang sedikit lebih butuh perhatian dari orang lain, misalnya cara masak daging yang harus sepenuhnya matang, cuci sayuran dan buah-buahan yang harus steril, dan lain-lain. Serta, vitamin yang harus Putri minum untuk membantu daya tahan tubuhnya.

Namun upaya itu tidak sia-sia, Putri berhasil melahirkan anak pertamanya tanpa adanya penularan vertikal, begitu pula dengan anak keduanya. Dia berharap, anak ketiganya pun juga bisa demikian.

“Saya sangat bersyukur dengan apa yang saya alami dan berharap pengetahuan tentang HIV dan AIDS bisa semakin dipahami oleh lebih banyak orang supaya tidak ada lagi odha yang mendapat stigma dan diskriminasi,” ujar Putri yang saat ini bekerja di sebuah restoran Korea ini.

Dia menegaskan, HIV dan AIDS bukanlah penyakit, melainkan virus dan sindrom yang menurunkan kekebalan tubuh. Itulah kenapa, odha selalu meninggal karena penyakit lain yang menggerogoti tubuhnya, bukan karena HIV itu sendiri.

Putri pun berharap, dia dan keluarganya bisa tetap melanjutkan produktivitas dengan tubuh yang sehat melalui pola hidup yang sehat pula.

Sumber: KOMPAS.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s