Keluarga-Zeng-di-Toilet

Tak Mampu Sewa Rumah, Keluarga Zeng Lijun Tinggal Dalam Toilet


Keluarga-Zeng-di-Toilet

BEIJING, — Tak ada rotan, akar pun jadi. Mungkin pepatah ini cocok untuk mendeskripsikan kehidupan Zeng Lijun bersama keluarga kecilnya di kota Shenyang, China. Dengan harga sewa rumah atau apartemen yang sangat mahal, Zeng, bersama istrinya Wang Zhixia dan putra balitanya harus tinggal di dalam sebuah toilet pria.

Zeng Lingjun (33) terlahir dari sebuah keluarga miskin di desa Fumin, Provinsi Jilin, China. Pada 1999, berhasil masuk ke Institut Sains dan Teknologi Heilongjiang, Sayangnya, dia tak bisa duduk di bangku kuliah karena tak memiliki biaya. Akhirnya dengan berbekal uang 50 yuan atau tak sampai Rp 100.000, Zeng akhirnya memilih merantau ke kota Shenyang. Akhirnya, Wang menyewa sebuah toilet pria yang sudah tak digunakan di sebuah hotel. Pada 2006, Wang yang sehari-hari bekerja mereparasi sepatu tinggal di toilet seluas 20 meter persegi itu.

Ketika dia menikahi Wang Zhixia pada 2010, maka mereka berdua akhirnya tinggal di dalam toilet itu. Bahkan, ketika putra mereka lahir pada 2011, mereka tetap bertahan di toilet itu.

Meski memiliki tempat tinggal yang “unik”, Zeng menggambarkan kediamannya itu sebagai sebuah tempat yang “kecil tetapi lengkap”. Dia juga mengatakan sudah terbiasa dengan bau air seni di dalam toilet itu.

Di dalam toilet itu, Zeng melengkapinya dengan tempat tidur, sebuah televisi kecil, meja yang diletakkan di antara dua tempat membuang air kecil. Di sudut lain, dia menempatkan lemari. Di sisi lain dinding toilet, Zeng memasang sebuah kertas merah dengan karakter huruf China “Xi” yang berarti kebahagiaan atau nasib baik.

“Saya puas dengan yang saya miliki sekarang. Hidup di sini jauh lebih baik,” kata Zeng.

Di dekat tempat tidur, di tempat yang dulunya adalah lokasi wastafel, kini menjadi dapur keluarga itu.

“Ini bukan tempat yang nyaman untuk memasak, namun saya sudah terbiasa,” kata istri Zeng, yang pernah bekerja sebagai petugas kebersihan.

Untuk tinggal di toilet hotel itu, Zeng harus membayar sekitar Rp 1 juta sebulan. Di depan hotel itu, Zeng mendapatkan lokasi gratis untuk usaha reparasi dan semir sepatunya. Dari pekerjaannya itu, Zeng memperoleh sekitar Rp 3,7 juta sebulan. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari umah minimum regional di Shenyang.

Meski menyatakan puas, Zeng mengakui tempat tinggalnya saat ini memang bukan tempat yang nyaman. Dia bahkan harus menyiram toilet berulang kali untuk menghilangkan bau menyengat yang ditinggalkan air seni. Selain itu, kondisi di dalam toilet itu sangat lembab sehingga membuat putranya yang kini berusia tiga tahun terkena eksim.

Sebanyak 240 juta warga desa China bekerja di perkotaan di tengah meledaknya perekonomian China. Namun, banyak dari warga China ini hidup dalam kondisi yang menyedihkan dengan akses terbatas ke layanan kesehatan dan pendidikan.

Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s