Suami Istri, 40 Tahun Hidup Berdua di sebuah Pulau


TETAP SETIA. Daeng Abu dan Maidah tetap setia di Pulau Cangkeh, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Pangkep.

Keterbatasan fisik tidak membuatnya pasrah. Dengan keterbatasan itu, sepasang suami istri, Abu dan Maidah mengabdikan hidupnya demi kelestarian alam.

Di Pulau Cangkeh, Pangkep, kisah dua insan penyandang tuna netra ini bermula. Pengabdian yang tulus tak berpamrih hingga kisah cinta abadi dua anak manusia.

Sejak 40 tahun silam, Pulau Cangkeh hanya onggokan daratan tak berpenghuni di tengah-tengah perairan Kabupaten Pangkep. Pulau tak berpenghuni itu tandus. Tak ada satupun warga yang menghuni pulau seluas 10 kilometer persegi ini.

Hingga suatu ketika, sepasang suami istri bernama Daeng Abu dan Maidah, datang dan mulai menghidupkan pulau. Kedatangan Abu dan Maidah, bukan tanpa cerita tragis.

Karena penyakit kusta yang diidapnya sejak kecil, Abu dan istrinya diasingkan oleh warga. Bertahun-tahun mereka hidup berpindah. Daeng Abu yang juga buta akhirnya memilih meninggalkan daratan menggunakan perahu. Mereka akhirnya terdampar di Pulau Cangkeh yang berjarak 10 mil dari Kota Pangkep.

Melihat kondisi Pulau Cangkeh yang saat itu amat memprihatinkan, hati Abu terpanggil. Dia mulai menanaminya dengan pohon cemara laut dan berbagai tumbuhan lain.

Hasilnya, kini setelah 40 tahun, Pulau Cangkeh berubah menjadi satu pulau yang hijau. Bak hutan kecil di tengah laut.

Suasana damai nan rindang itu saya rasakan saat menyambangi pulau ini, pekan lalu. Walau hanya dihuni dua orang lansia, pulau ini tampak terawat. Pulau ini menjadi salah satu ikon habitat penyu di Sulsel.

Bahkan berkat pengabdiannya terhadap Pulau Cangkeh, Abu pernah mendapatkan penghargaan dari Dompet Dhuafa, atas jasanya yang penuh dedikasi, mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk lingkungan.

Hewan dan manusia pun sekarang banyak yang memanfaatkan kerindangan pulau itu. Pulau itu kini menjadi tempat bertelur secara alamiah bagi penyu-penyu dan rumah bagi ribuan spesies burung.

Meskipun tak mampu melihat, setiap hari Abu mengawasi semua tanaman di Pulau Cangkeh dan suka mengingatkan para nelayan yang singgah untuk menjaga kebersihan pulau.

Tak ada warga lain di sana, kecuali rimbunan semak belukar dan nyiur serta nyanyian ombak yang senantiasa mewarnai kehidupan sang penghuninya.

Tak hanya itu, kini pulau tersebut semakin sepi saat ditinggalkan ratusan ekor penyu yang kembali ke habitatnya karena musim bertelur telah usai, hanya dua bulan dalam setahun yakni pada pertengahan tahun.

“Populasi penyu yang singgah bersarang dan bertelur di pulau ini semakin berkurang. Jika tahun lalu, kami bisa mendapatkan 152 butir telur penyu per musimnya. Sekarang, tidak sampai angka 100 lagi. Penyebabnya karena banyaknya warga yang berburu penyu di sekitar pulau. Apalagi mereka marak menggunakan bagan trowl yang menjaring semua biota laut termasuk penyu,” ucapnya.

Saat musim bertelur penyu, ia dan istri sangat terhibur. Bukan hanya karena kepekaan malam sirna berkat kehadiran hewan-hewan ini, namun juga berarti ada pendapatan tambahan untuk mereka melanjutkan hidup.

“Kami merawat penyu-penyu. Dua kolam yang dibangun atas bantuan Pemkab Pangkep, diperuntukkan bagi penetasan penyu. Jika musim bertelur kolam-kolam itu banyak berisi telur untuk nantinya menjadi tempat penetasan penyu kecil. Meski kondisi kami makin memprihatinkan di sini, kami tidak akan berhenti menjaga lingkungan, merawat penyu-penyu agar tidak punah,” nada daeng Abu bersemangat.

Menjadi Raja dan Ratu di Pulau “Penyu” hanya cerita lain dari Daeng Abu, yang kini telah berumur 60 tahun dan Maidah, 59 tahun, setidaknya untuk ukuran masyarakat dengan kehidupan yang serba glamor. Bermukim di Pulau Cengkeh, berdua, bagaikan raja dan ratu yang kini mulai merenta. Tubuh mereka tak lagi sekuat dulu, aktivitasnya sangat tergantung pada bantuan sang istri yang setia mendampinginya.

Meski demikian, kehidupan yang terasing di pulau, tanpa tetangga dan sanak saudara tidak menjadikannya larut dalam kesedihan. Keduanya menjalani rutinitasnya seperti biasa. Hidup di rumah panggung berukuran tujuh kali empat meter. Segala aktivitas rumah tangga berjalan normal. Mereka memasak, makan, istirahat hingga bercanda gurau, hanya berdua.

“Fasilitas di sini sangat terbatas, tak ada listrik, tak ada air tawar, apa lagi toko dan warung. Kami biasa menghibur diri dengan mendengarkan bisikan angin malam,” katanya.

Ternyata kisah romeo dan juliet bukanlah kisah cinta paling romantis di dunia ini. Ada cinta tulus yang tak berujung. Mereka adalah pasangan paling sempurna, meski tak berwujud sempurna. Daeng Abu tak perlu bunga, cokelat, atau perhiasan untuk meluluhkan hati istrinya, hanya sebuah ketulusan, mengabdikan diri kepada alam dan mereka mampu hidup bersama selama 40 tahun.

“Jika boleh meminta, saya sangat ingin senter dan radio, nak. Selama ini saya tak pernah merasakan bagaimana indahnya cahaya itu,” katanya. (*/sil)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s