Pengacara Muda Punya 75 Anak


Akibat ‘hobi’ mendonorkan spermanya saat masa kuliah.

Umurnya masih terbilang sangat muda, 33 tahun. Untuk ukuran profesi pengacara, Ben Seisler mungkin juga masih dianggap ‘anak bawang’. Tetapi, Ben ternyata sudah menjadi ‘ayah biologis’ atas setidaknya 75 anak. Jika dihitung secara matematis pun, sangat mustahil Ben memiliki anak sebanyak itu, karena istrinya atau pacarnya setidaknya harus melahirkan rata-rata 2,27 per tahun. Itupun dengan syarat Ben sudah mampu menghamili wanita sejak umur satu tahun.

Tunggu dulu! Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kisah Ben memang bukan terjadi dalam situasi normal, tetapi percaya atau tidak itu nyata. Dilansir dari situs www.abajournal.com dan www.boston.com, Ben, seorang pengacara di Boston, Amerika Serikat, baru menyadari jumlah anaknya banyak setelah dia memperoleh informasi dari laman “the Donor Sibling Registry”. Itu terjadi tahun 2005. Ya, Ben memang pernah menjadi pendonor sperma.


Ben Seisler…..

Kegiatan mendonor sperma itu dilakukan Ben selama kurang lebih tiga tahun ketika masa kuliah di Fakultas Hukum, George Mason University di Virginia, Amerika Serikat. Ben adalah ‘pelanggan tetap’ sebuah bank sperma di Virginia. Mendonorkan sperma seolah-olah menjadi profesi bagi Ben saat kuliah, karena dia memperoleh uang sebesar AS$150 per donasi (Rp1,3 juta, kurs AS$1=Rp8.780).

Kini, setelah mengetahui anaknya sebanyak itu, Ben pusing tujuh keliling. Apalagi, dia memperkirakan angka 75 bisa membengkak menjadi 120 atau bahkan 140 anak. Bahkan, Ben sampai perlu menggunakan excel spreadsheet  –produk Microsoft- untuk menyusun data tentang anak-anaknya. “Kamu tidak mungkin berada di 70 ulang tahun dalam satu tahun,” seloroh salah seorang sahabat, ketika Ben menceritakan masalahnya.

Sejauh ini, Ben sudah bertemu dua dari puluhan (atau ratusan) anak biologisnya, yakni anak laki-laki berusia empat tahun dan kakak perempuannya berumur tujuh tahun. Istri Ben sempat khawatir akan lebih dari dua anak yang akan datang ke rumah karena ingin bertemu dengan ayah biologis mereka. “Bagaimana kalau mereka semua mengetuk pintu?” ucap sang istri.

Kisah Ben ternyata menarik perhatian sebuah jaringan televisi untuk dibuatkan film dokumenter yang kemudian diberi judul “Style Exposed: Sperm Donor’’. Film itu ditayangkan perdana 27 September 2011 kemarin.

Apa yang dialami Ben adalah gambaran masalah yang memang diprediksi akan muncul terkait praktik donor sperma. Beberapa pertanyaan pelik biasanya akan muncul seperti: bagaimana kalau si anak ingin bertemu dengan ayah biologisnya, bagaimana jika dua anak yang berasal dari donor sperma yang sama bertemu lalu menikah? kapan waktu yang tepat untuk mengatakan kepada pasangan wanita anda bahwa anda adalah pendonor sperma? Untuk pertanyaan terakhir, Ben berani membuka rahasianya pada kencan ketiga.

Sejumlah kalangan kini mendesak agar aturan donor sperma dibuat lebih ketat. Seorang profesor hukum asal George Washington University Naomi Cahn khawatir praktik donor sperma akan memunculkan masalah perkimpoian incest atau penyakit genetika langka.

Bagaimana pendapat Anda? Atau Anda punya pengalaman masa kuliah seperti Ben Seisler?

Sumber: hukumonline.com
Sumber asli:
http://www.boston.com/
http://www.abajournal.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s